De Jong Tak Puas Dengan Musim Debuntya di Barcelona

Kendati sering diandalkan Barcelona musim ini, Frenkie De Jong mengaku kurang puas dengan performanya di musim debut bersama raksasa Catalan.

Seperti diketahui, gelandang 23 tahun itu resmi menjadi bagian dari Barcelona sejak bursa transfer musim panas kemarin. Ia ditebus dari Ajax Amsterdam lewat kocek tak kurang dari 75 juta Euro.

Performa apik De Jong bersama dengan Ajax di musim 2018/19 kemarin membuat Barcelona sama sekali tak ragu untuk merogoh kocek sebanyak itu.

Pada musim pertamanya bersama Raksasa Catalan, De Jong bisa dikatakan mendapatkan jam bermain yang cukup reguler. Dia mencatatkan 40 penampilan di semua ajang, mengukir 2 gol dan 4 assist diantaranya.

Bermain bagi Barcelona menurut sang pemain adalah impiannya sejak lama, karena itu dia merasa sangat senang karena musim debutnya sudah tuntas.

“Saya sangat gembira bisa memenuhi mimpi saya untuk bermain di Barcelona,” ujar De Jong kepada Sport.

Terlepas dari hal teknis, De Jong mengaku sangat menikmati kehidupannya di Barcelona. Dia banyak terbantu oleh orang-orang di klub sehingga tak kesulitan dalam proses adaptasi.

“Bermain untuk klub ini selalu menjadi mimpi saya. Saya senang dengan kehidupan saya di klub ini, saya juga senang dengan para staff. Saya benar-benar menikmati kehidupan saya di sini.” Tandasnya.

Hanya saja, di satu sisi De Jong mengakui ada yang mengganjal dengan musim debutnya bersama Barcelona. Sang pemain merasa bahwa harusnya dia bisa bermain lebih baik dari ini.

“Jika kita bicara mengenai performa saya, saya mengakui bahwa saya seharusnya bisa bermain lebih baik di tahun ini.”

“Saya memang tidak sering bermain buruk, namun saya tidak pernah bermain dengan sangat bagus. Jadi saya rasa musim ini cukup Ok, tetapi itu tidak cukup.” ujarnya.

Adapun, saat ini De Jong dan para pemain Barcelona lainnya sedang bersiap untuk melakoni pertandingan melawan Napoli di leg kedua babak 16 besar Liga Champions Eropa.

Rencananya, pertandingan tersebut akan berlangsung pada Minggu dinihari WIB nanti (09/08) di Camp Nou.

Agen Kembali Konfirmasi Keinginan Coutinho kembali ke Inggris

Kia Joorabchian, Agen Transfer Philippe Coutinho ini kembali membeberkan ke mana kliennya ingin berlabuh musim depan. Playmaker milik Barcelona itu disebutnya ingin kembali merasakan sengitnya persaingan di Liga Primer Inggris.

Sejatinya, playmaker asal Brazil ini pernah merasakan kerasnya persaingan di Premier League, tepatnya bersama Liverpool pada periode 2010 sampai 2018. Setelahnya, dia memutuskan hijrah ke Spanyol untuk bergabung dengan Barcelona.

Nahasnya, perjalanan karir pemain Brazil bersama dengan Raksasa Catalan tak berjalan baik. Coutinho tampak kesulitan beradaptasi dengan skuat El Blaugrana. Alhasil dia dipinjamkan ke Bayern Munchen sejak musim panas kemarin.

Seiring berakhirnya kampanye musim ini, berakhir juga masa peminjaman Coutinho di Bayern Munchen. Barcelona juga enggan menerima kembali pemain Brazil karena sudah memiliki pemain sekaliber Antoine Griezmann.

Karena alasan tersebut, Coutinho diyakini akan menjadi salah satu pemain yang dijual Barcelona di musim panas nanti.

Kia Joorabchian sendiri mengakui bahwa situasi kliennya saat ini cukup rumit.

“Situasinya saat ini cukup rumit,” ujar Joorabchian kepada talkSPORT.

Sang pemain belum bisa mengambil keputusan tentang kemana dia akan berlabuh musim depan. Pasalnya, Coutinho masih harus membantu Bayern Munchen di sisa kompetisi Liga Champions Eropa.

“Liga Champions akan digelar hingga tanggal 23 Agustus mendatang, sehingga sulit bagi pemain seperti Coutinho untuk mencari klub sebelum itu selesai.” Tandasnya.

Tapi, sang agen memberikan indikasi bahwa sepertinya Coutinho ingin kembali mencicipi kerasnya persaingan di Premier League musim depan. Walau begitu, sang pemain juga tak menutup pintu untuk tetap bertahan di Camp Nou.

“Kami tidak pernah menutup-nutupi bahwa dia ingin kembali ke Premier League jika kondisinya memungkinkan. Ia sangat mengagumi Premier League.”

“Saya rasa kembali ke Inggris adalah salah satu prioritasnya, meski ia tidak menutup kemungkinan bermain bagi Barcelona. Segalanya masih bisa terjadi, dan ada banyak yang tertarik padanya karena dia adalah pemain yang hebat.” ujarnya.

Kabar yang beredar mengklaim bahwa Coutinho sedang diminati oleh raksasa London Utara, Arsenal. Di satu sisi, dia juga dikaitkan dengan Manchester United dan Tottenham Hotspur.

Manchester United Tak Boleh Bergantung Hasil Tim Lain

Pelatih Ole Gunnar Solskjaer meminta para pemainnya untuk tidak memikirkan kemungkinan Chelsea akan terpeleset dan fokus pada hasil sendiri demi mendapatkan posisi terbaik.

Persaingan menuju empat besar Premier League musim ini memang tampak begitu sengit. Setidaknya, ada tiga tim yang memperebutkan dua tiket ke Liga Champions Eropa musim depan, mereka adalah Chelsea, Leicester City dan Manchester United.

Secara berurutan ketiga tim tersebut menduduki peringkat ke-3, 4 dan 5. Manchester United yang berada di posisi terbawah berpeluang naik ke tiga besar andai menang atas West Ham United dinihari WIB nanti.

Pasalnya, Leicester City sudah memainkan pekan ke-36 dan kalah di tangan Tottenham, sedangkan Chelsea akan menghadapi Liverpool.

The Blues diprediksi bakal terpeleset saat menghadapi sang juara Premier League, sehingga ini jadi kesempatan emas bagi Manchester United. Tapi, pelatih Ole Gunnar Solskjaer meminta timnya untuk tidak bergantung pada hasil tim lain.

“Kami hanya perlu fokus pada diri kami sendiri untuk saat ini,” ujar Solskjaer kepada MUTV.

Yang perlu dilakukan para pemainnya adalah meraih kemenangan di sisa dua pertandingan demi mengincar satu tempat di liga champions musim depan.

“Jika kami melakukan tugas kami, maka kami akan mendapatkan apa yang kami inginkan. Jadi itu harus menjadi fokus kami saat ini. Ada dua laga yang tersisa bagi kami dan itu adalah dua pertandingan yang akan mempengaruhi proses dan perjalanan tim ini.”

Manchester United sendiri akhirnya menelan kekalahan perdana setelah melalui 19 laga tanpa terkalahkan. Kekalahan perdana itu ditelan Setan Merah saat menghadapi Chelsea di babak semifinal Piala FA.

Namun Solskjaer menegaskan bahwa timnya sudah melupakan kekalahan mengecewakan tersebut dan sepenuhnya fokus pada pertandingan melawan West Ham United.

“Tim ini sudah belajar di sepanjang waktu. Hasil mengecewakan di hari Minggu saya yakin akan memberikan kami hasrat dan determinasi untuk bangkit.” ujarnya.

Selain lewat jalur finish di empat besar klasemen akhir, Manchester United punya cara lain untuk menembus Liga Champions Eropa musim depan, tepatnya dengan cara menjadi juara Liga Europa.

Jika Hasilnya Mengecewakan, Conte Siap Dipecat

Isu pemecatan Antonio Conte dari kursi pelatih Inter Milan sempat mengemuka saat klub tergusur dari empat besar klasemen sementara. Menariknya, mantan pelatih Juventus tersebut mengaku siap dipecat jika memang klub tidak puas dengan kinerjanya.

Conte sendiri baru dipercaya menangani Inter Milan sejak awal musim ini. Pelatih berusia 50 tahun itu cukup berpengalaman, pernah mengantar Juventus meraih tiga scudetto beruntun, kemudian menangani Timnas Italia.

Dia bahkan berhasil mempersembahkan gelar Premier League di musim pertamanya sebagai pelatih Chelsea. Sayang, kinerja yang berbeda terlihat pada musim perdananya bersama dengan Nerazzuri.

Memang, Inter sempat tancap gas, meraih sederet hasil bagus di awal musim ini, bahkan mereka pernah menguasai klasemen sementara cukup lama. Tapi belakangan, La Beneamata justru menunjukkan penurunan.

Sebelum Serie A ditunda karena pandemi Virus Corona, Inter Milan bahkan tergusur sampai peringkat ke-3. Mereka juga tergusur lagi satu posisi ke bawah setelah kalah dari Bologna dan ditahan imbang Hellas Verona.

Saat itu, isu pemecatan Conte sempat mengemuka, dan menariknya eks pelatih Chelsea ini mengaku siap dipecat andai memang kinerjanya dirasa tidak memuaskan.

“Jika semua orang senang dengan kinerja saya, dan saya rasa begitulah kondisinya sekarang, dari yang saya dengar, maka saya tidak melihat alasan mengapa kami tidak bisa terus berjalan,”

“Jika mereka tidak senang dengan tugas yang saya lakukan, maka saya takkan ragu untuk mundur dari jabatan,” ujar Conte kepada Sky Sport Italia.

Adapun pada kesepakatan awalnya, Antonio Conte menyepakati kontrak berdurasi tiga tahun di Inter Milan. Tugasnya memang membawa klub kembali ke tempat yang seharusnya, tapi yang bersangkutan sadar bahwa untuk mencapai tugas tersebut butuh waktu yang tidak sebentar.

“Saya dipanggil oleh Inter untuk proyek tiga tahun, untuk membawa mereka ke tempat yang seharusnya. Sayangnya, itu membutuhkan waktu,” tambahnya.

Terbaru, Antonio Conte berhasil mengalahkan Torino dengan skor 3-1 pada Selasa (14/7/2020) dini hari tadi. Kemenangan tersebut membuat Inter Milan berhasil merebut kembali peringkat ke-2 pada klasemen sementara. Kini mereka hanya tertinggal delapan poin dari pemuncak, Juventus.

Nemanja Matic Resmi Tambah Kontrak di MU

Senin Sore (06/07), Manchester United mengkonfirmasi bahwa pihak klub telah mencapai kesepakatan dengan gelandang veteran klub, Nemanja Matic terkait kontrak baru. Ya, pemain Serbia itu telah resmi memperpanjang kontraknya di Old trafford.

Sejatinya, kontrak mantan pemain Chelsea tersebut baru akan berakhir pada musim panas ini. Tapi memang dalam kontraknya tersebut terdapat klausul yang memperbolehkan perpanjangan otomatis untuk satu tahun ke depan.

Nah, mengingat kontribusi sang pemain dalam skuat arahan Ole Gunnar Solskjaer yang cukup besar, akhirnya pihak klub mengaktifkan klausul tersebut. Bahkan, tak tanggung-tanggung, raksasa Premier League ini memberikan kontrak tiga tahun untuk Matic.

“Manchester United senang bisa mengumumkan bahwa Nemanj Matic telah menandatangani kontrak baru, yang membuatnya bertahan di klub hingga Juni 2023,” bunyi pernyataan resmi United.

Mendapatkan kontrak baru berdurasi cukup panjang, pemain berusia 31 tahun itu mengaku senang. Tentu saja dia siap membantu klub untuk meraih target-targetnya selama tiga musim ke depan.

“Saya sangat senang bisa terus menjadi bagian dari klub yang hebat ini. Sebagai seorang pemain, saya masih bisa berkontribusi untuk tim ini dan masih banyak hal yang ingin saya capai dalam karir saya.”

“Bisa meraih itu bersama Manchester United akan menjadi kebanggaan besar bagi saya.” Ujar Matic sebagaimana dilansir situs resmi klub.

Lebih lanjut, mantan pemain Benfica mengaku sangat optimis dengan peluang Manchester United untuk bersaing dalam perburuan gelar juara di musim-musim berikutnya.

“Saya sangat senang bisa menjadi bagian dari tim yang menarik seperti ini. Kami memiliki keseimbangan yang bagus antara pemain muda dan juga pemain berpengalaman, dan ada hubungan yang baik di dalam klub ini.” Tandasnya.

Manchester United memang sedang berada dalam jalur yang positif. Dalam 16 laga terakhir, mereka tak pernah terkalahkan dan berhasil meraih 14 kemenangan diantaranya, termasuk dalam laga melawan Bournemouth akhir pekan kemarin.

Matic sendiri belakangan tengah menunjukkan performa yang impresif di skuat Manchester United. Yang bersangkutan kerap jadi starter dan menjadi tandem gelandang Paul Pogba di lini tengah.

Pep Guardiola Akui Akan Sulit Fokus Pada Premier League Saja

Meski gelar Premier League sudah dipastikan jatuh ke tangan Liverpool, tapi tim-tim lain termasuk Manchester City harus tetap fokus pada sisa pertandingan musim ini. Namun, pelatih Pep Guardiola mengakui bahwa itu akan sulit bagi para pemainnya.

Pertandingan Premier League terakhir yang dimainkan Manchester City adalah tengah pekan kemarin. Dalam laga tersebut mereka secara mengejutkan takluk 1-2 dari tuan Rumah. Kekalahan tersebutlah yang membuat persaingan gelar juara berakhir.

Jarak poin dengan Liverpool menjadi 23 poin, praktis Tim Marseyside berhak jadi juara karena musim ini hanya menyisakan tujuh pertandingan saja.

Tentu itu menyakitkan, tapi para pemain Manchester City tampak langsung move on dengan memenangkan pertandingan perempat final Piala FA melawan Newcastle United. Mereka memenangkan laga tersebut dengan skor telak 2-0.

Dengan kemenangan ini, Citizen dipastikan melangkah ke babak semifinal dan akan berhadapan dengan Arsenal.

Namun, diakui oleh pelatih Pep Guardiola bahwa kemenangan tersebut tak lantas membuat pasukannya bisa fokus meraih hasil maksimal di sisa pertandingan Premier League musim ini.

“Setelah kekalahan di London atas Chelsea, tentu saja sekarang kami sedikit kesulitan untuk fokus di Premier League,”

“Kami bermain untuk lolos ke Liga Champions, belum selesai tapi kami sudah dekat, kami membutuhkan dua kemenangan lagi,” ujar Guardiola seperti dikutip Goal International.

Terlebih, Piala FA dan Liga Champions Eropa tidak bisa dipandang sebelah mata, apalagi lawan mereka adalah Real Madrid pada leg kedua babak 16 besar Liga Champions nanti.

“Namun, tentu saja, sekarang Piala FA dan Liga Champions sedikit berbeda karena fakta bahwa kami bermain di Wembley lagi, musim lalu kami menjadi juara, kini kami berada di semifinal lagi dan itu sangat bagus. Lalu kami mempersiapkan akhir musim melawan Madrid,” tukasnya.

Yang menjadi target pertama Pep adalah membawa timnya melangkah ke babak semifinal dan itu tentu saja bukan target yang mudah dicapai.

“Pertama-tama kami lolos ke semifinal, tak mudah untuk menyerang tim yang beknya bermain sangat, sangat dalam,” tutur Guardiola.

Leroy Sane Dipastikan Tinggalkan Manchester City

Teka-teki masa depan Leroy Sane bersama dengan Manchester City akhirnya terjawab sudah. Setelah beberapa bulan terakhir begitu intens dikaitkan dengan Bayern Munchen, Manchester City mengkonfirmasi bahwa sang winger memang berniat meninggalkan klub.

Sebenarnya, kabar ketertarikan Bayern Munchen terhadap Leroy Sane sudah terdengar sejak musim panas kemarin.

Bahkan, kabarnya saat itu sudah ada kesepakatan antara juara Bundesliga dengan sang pemain, tapi kelanjutannya tak memungkinkan karena sang pemain mengalami cedera. Meski demikian spekulasi transfer ini masih terus terdengar.

Terlebih mengetahui fakta bahwa Sane akan segera berada di tahun terakhir dalam kontraknya bersama dengan raksasa Premier League.

Benar saja, pelatih Pep Guardiola membenarkan bahwa winger muda Jerman tersebut dipastikan bakal meninggalkan klub lantaran sudah menolak perpanjangan kontrak baru.

“Leroy sudah menegaskan bahwa dia tidak mau memperpanjang kontrak. Itu berarti dia ingin pergi. Entah bakal terjadi musim panas ini atau pada akhir kontraknya.” Kata Pep Guardiola kepada Goal Internasional.

Lebih lanjut, mantan pelatih Barcelona ini menegaskan bahwa Manchester City sebenarnya sudah beberapa kali melayangkan kontrak anyar kepada Sane, tapi semuanya ditolak. Jadi pada intinya, Winger Jerman tersebut memang ingin meninggalkan Etihad.

“Klub sudah menawarinya dua atau tiga kali, dan dia menolak semuanya. Jadi, dia bakal bermain untuk klub lain.”

“Leroy menolak kontrak dan semua orang tahu apa artinya itu. Jika di akhir musim ini tecapai kesepakatan antara kedua klub, dia akan pergi. Jika tidak, dia akan bertahan setahun lagi,” Jelas sang juru taktik.

Jelas keputusan tersebut membuat Pelatih Pep Guardiola merasa kecewa, karena bagaimanapun Leroy Sane adalah pemain yang penting. Usianya baru 24 tahun dan masih bisa jadi andalan klub dalam jangka panjang.

“Saya sangat kecewa. Kami menginginkan dia. Dia adalah pemain muda dengan potensi luar biasa dan kualitas luar biasa, pemain seperti itu sulit ditemukan di mana pun,” tandasnya.

Tapi bagaimanapun, Pep tetap menghargai keputusan Sane dan memahami alasan dibaliknya.

“saya memahami itu. Kami menginginkan pemain yang memang ingin bermain untuk klub ini. Kami menghargai dia,” tutupnya.

Agen Isyaratkan Sergio Ramos Bakal Bertahan di Madrid

Masa depan Sergio Ramos di Real Madrid belakangan jadi perbincangan karena kontraknya yang akan berakhir dalam waktu dekat. Namun, Agen transfer sang pemain mengisyaratkan bahwa kliennya akan tetap bertahan di Santiago Bernabeu.

Sebagai informasi, Sergio Ramos sudah kurang lebih 15 tahun membela Real Madrid merupakan pemain yang krusial bagi raksasa La Liga Spanyol tersebut. Ia sudah menjadi tembok pertahanan yang sangat kokoh bagi Los Blancos sejak bergabung dari Sevilla.

Hanya saja, saat ini sang Kapten memiliki sisa kontrak sampai musim panas tahun depan. Sempat beredar kabar bahwa negosiasi kontrak itu berjalan alot, karena pihak Los Blancos dipercaya hanya bersedia memberikan perpanjangan kontrak berdurasi satu tahun saja.

Tak heran jika spekulasi masa depan Sergio Ramos mulai terdengar di media-media Spanyol. Ada yang mengklaim bahwa bek Timnas Spanyol itu akan hengkang dari Santiago Bernabeu. Menanggapi isu tersebut, agen transfer Ramos angkat bicara.

“Ya, dalam sepakbola memang terkadang ada hal-hal yang tidak terduga,” beber Rene Ramos kepada Radio Marca.

Meski demikian, Rene Ramos sangat yakin bahwa kliennya akan lebih mengutamakan opsi bertahan di Real Madrid. Pasalnya, sang pemain sangat mencintai raksasa La Liga Spanyol tersebut sejak bergabung dari Sevilla.

“Sejauh ini ada niatan yang baik dari kedua pihak untuk melanjutkan kerja sama ini. Semoga saja ia pensiun di Real Madrid, karena itu adalah mimpinya dan saya juga tahu bahwa pihak klub ingin ia pensiun di sana.”

Memang, sampai saat ini belum ada kesepakatan dalam negosiasi kontrak baru, tapi Rene menyebut bahwa saat ini prioritas utama Ramos adalah melanjutkan karirnya bersama Real Madrid, tidak ada alternatif lain yang dipikirkan.

“Hingga saat ini kami belum mendiskusikan apapun terkait kontrak ini, namun tidak ada yang perlu dicemaskan. Ketika pihak klub siap untuk berbicara, maka kami akan meladeninya.” ia menandaskan.

Adapun, Real Madrid sendiri memang akan kembali beraksi di La Liga setelah tiga bulan kompetisi itu ditunda. Mereka dijadwalkan menjamu Eibar di Santiago Bernabeu pada hari Senin (15/6) dini hari nanti.

Karena Kasus George Floyd, Eks City Ini Takut Ke AS

Isu rasialisme dalam kasus kematian George Floyd memicu gelombang protes dari berbagai kalangan dan dari berbagai belahan dunia. Bahkan karenanya, ada banyak orang kulit hitam yang takut berkunjung ke Negeri Paman Sam, termasuk eks pemain Manchester City, Nedum Onuoha.

Amerika Serikat memang dalam kondisi yang genting saat ini, selain karena pandemi Virus Corona yang masih belum mereda, mereka juga sedang diterpa isu rasialisme.

Isu tersebut berkaitan dengan kematian seorang kulit hitam bernama George Floyd yang meninggal dunia di tangan salah seorang polisi Minneapolis.

Berdasarkan kabar yang terdengar, George Floyd awalnya hanya diduga akan melakukan aksi kriminal di sebuah pertokoan. Pihak kepolisian setempat lantas melakukan tindakan preventif, namun seorang polisi kulit putih yang bertindak saat itu justru membuat nyawa George Floyd melayang.

Polisi tersebut menekan leher George Floyd menggunakan lututnya sampai yang bersangkutan kehabisan nafas dan akhirnya meninggal.

Kasus kematian tersebut memicu isu rasialisme, gelombang kecaman pun berdatangan dari berbagai kalangan. Bahkan ada aksi unjuk rasa di beberapa kawasan di Amerika Serikat.

Sementara itu, Nedum Onuoha kini bermain di Real Salt Lake, tim MLS di Amerika Serikat sejak 2018 silam. Sebelumnya, ia pernah bermain untuk Manchester City, Sunderlnad, dan Queens Park Rangers.

Sekarang, melihat apa yang terjadi Onuoha justru merasa cemas dengan tingkah lakunya di luar sana akan disalah artikan oleh pihak berwajib.

“Saya kini harus berwaspada tentang bagaimana saya berperilaku di luar sana. Agaknya, apapun yang saya lakukan dipantau oleh orang-orang yang memiliki kekuatan. Saya tidak mau mengatakan hal ini, tetapi sekarang saya takut dan tidak percaya terhadap polisi,” kata Nedum Onuoha kepada BBC.

Lebih lanjut, pria yang sempat cukup lama menetap di Inggris mengakui bahwa kehidupan di Negeri Ratu Elizabeth jauh lebih nyaman dibandingkan di Amerika Serikat.

“Di Inggris, saya merasa lebih nyaman, karena kalau ada sesuatu pun tidak akan sampai mematikan. Kalau di Amerika Serikat, pertengkaran bisa berujung kematian,” sambung Nedum Onuoha.

Mengenang Perjalanan Juventus Saat Terakhir Kali Juarai UCL

Juventus merupakan salah satu klub yang sangat mendambakan trofi Liga Champions Eropa, dan rasanya fakta tersebut tak bisa dibantah lagi. Mereka sudah menembus empat partai final sejak terakhir kali juara di tahun 1996 silam, namun selalu berujung kegagalan.

Jika melirik kembali 24 tahun yang lalu, Juventus memang memiliki skuat Juara, para pemain mereka memiliki mental pemenang. Lihat saja Antonio Conte, Didier Deschamps, Alessandro Del piero, Antonio Peruzzi dan masih banyak lagi.

Saat itu, Bianconneri berhasil melalui babak penyisihan group dengan hasil yang terbilang mulus. Mereka tergabung dengan Borussia Dortmund, Steaua Bucuresti, dan Rangers di group C.

Setelah sukses meraih tiket ke babak gugur, pasukan Marcelo Lippi tampak mengendurkan performa mereka di dua laga tersisa. Adapun, berikut Hasil pertandingan Juventus di fase grup Liga Champions Eropa musim 1995/96:

13 September 1995 Borussia Dortmund 1–3 Juventus
27 September 1995 Juventus 3-0 Steaua Bucuresti
18 Oktober 1995 Juventus 4-1 Rangers
1 November 1995 Rangers 0–4 Juventus
22 November 1995 Juventus 1–2 Borussia Dortmund
6 Desember 1996 Steaua Bucuresti 0–0 Juventus

Perlu diketahui, saat itu Format Liga Champions Eropa berbeda dengan sekarang, karena fase Group hanya berisikan 16 tim saja. Artinya, Juventus langsung lolos ke babak 8 Besar, disinilah mereka harus berhadapan dengan tim Raksasa Spanyol, Real Madrid.

Ya, Los Blancos hanya mampu finish sebagai Runner Up Group D, dibawah Ajax Amsterdam yang masih berjaya kala itu.

Kendati demikian, kekuatan kedua tim berimbang, bahkan pada pertandingan leg pertama di Santiago Bernabeu, Juventus dipaksa menyerah dengan gol tunggal Raul Gonzales.

Pertandingan leg kedua berlangsung intens, dengan hujan 7 kartu kuning dan 2 kartu merah. Untungnya, Juventus yang bermain sebagai tuan rumah mampu menang telak dengan skor 2-0 dan melaju ke babak perempat final.

Di babak ini, Juventus menghadapi wakil Prancis, Nantes. Pada leg pertama di Turin, Juventus menang tanpa hambatan setelah seorang pemain Nantes mendapat kartu merah. Dua gol mereka sarangkan ke gawang wakil Prancis tersebut.

Sedangkan leg kedua berakhir dengan skor 2-3, kemenangan Nantes. Meski begitu, Juve berhak melaju ke babak final.

Pada laga puncaknya, Juventus berhadapan dengan Ajax yang sebelumnya menyingkirkan Real Madrid, Dortmund dan Panathinaikos. Laga Final digelar di Stadio Olimpico, Roma, 22 Mei 1996.

Ajax saat itu punya skuat yang mewah, nama-nama besar seperti Jari Litmanen, Edgar Davids, Edwin van der Sar, Ronald dan Frank de Boer.

Benar saja, wakil Belanda jadi lawan sengit Juventus. Meski berhasil unggul lebih dulu, Bianconneri harus berusaha lebih keras melanjutkan pertandingan lewat babak adu penalti setelah skor 1-1 bertahan sampai laga usai.

Di babak adu penalti, Juve berhasil menang, semua eksekutor mereka mencetak gol dengan baik, sedangkan dua penendang Ajax gagal mengeksekusi penalti.