Mengenang Perjalanan Juventus Saat Terakhir Kali Juarai UCL

Juventus merupakan salah satu klub yang sangat mendambakan trofi Liga Champions Eropa, dan rasanya fakta tersebut tak bisa dibantah lagi. Mereka sudah menembus empat partai final sejak terakhir kali juara di tahun 1996 silam, namun selalu berujung kegagalan.

Jika melirik kembali 24 tahun yang lalu, Juventus memang memiliki skuat Juara, para pemain mereka memiliki mental pemenang. Lihat saja Antonio Conte, Didier Deschamps, Alessandro Del piero, Antonio Peruzzi dan masih banyak lagi.

Saat itu, Bianconneri berhasil melalui babak penyisihan group dengan hasil yang terbilang mulus. Mereka tergabung dengan Borussia Dortmund, Steaua Bucuresti, dan Rangers di group C.

Setelah sukses meraih tiket ke babak gugur, pasukan Marcelo Lippi tampak mengendurkan performa mereka di dua laga tersisa. Adapun, berikut Hasil pertandingan Juventus di fase grup Liga Champions Eropa musim 1995/96:

13 September 1995 Borussia Dortmund 1–3 Juventus
27 September 1995 Juventus 3-0 Steaua Bucuresti
18 Oktober 1995 Juventus 4-1 Rangers
1 November 1995 Rangers 0–4 Juventus
22 November 1995 Juventus 1–2 Borussia Dortmund
6 Desember 1996 Steaua Bucuresti 0–0 Juventus

Perlu diketahui, saat itu Format Liga Champions Eropa berbeda dengan sekarang, karena fase Group hanya berisikan 16 tim saja. Artinya, Juventus langsung lolos ke babak 8 Besar, disinilah mereka harus berhadapan dengan tim Raksasa Spanyol, Real Madrid.

Ya, Los Blancos hanya mampu finish sebagai Runner Up Group D, dibawah Ajax Amsterdam yang masih berjaya kala itu.

Kendati demikian, kekuatan kedua tim berimbang, bahkan pada pertandingan leg pertama di Santiago Bernabeu, Juventus dipaksa menyerah dengan gol tunggal Raul Gonzales.

Pertandingan leg kedua berlangsung intens, dengan hujan 7 kartu kuning dan 2 kartu merah. Untungnya, Juventus yang bermain sebagai tuan rumah mampu menang telak dengan skor 2-0 dan melaju ke babak perempat final.

Di babak ini, Juventus menghadapi wakil Prancis, Nantes. Pada leg pertama di Turin, Juventus menang tanpa hambatan setelah seorang pemain Nantes mendapat kartu merah. Dua gol mereka sarangkan ke gawang wakil Prancis tersebut.

Sedangkan leg kedua berakhir dengan skor 2-3, kemenangan Nantes. Meski begitu, Juve berhak melaju ke babak final.

Pada laga puncaknya, Juventus berhadapan dengan Ajax yang sebelumnya menyingkirkan Real Madrid, Dortmund dan Panathinaikos. Laga Final digelar di Stadio Olimpico, Roma, 22 Mei 1996.

Ajax saat itu punya skuat yang mewah, nama-nama besar seperti Jari Litmanen, Edgar Davids, Edwin van der Sar, Ronald dan Frank de Boer.

Benar saja, wakil Belanda jadi lawan sengit Juventus. Meski berhasil unggul lebih dulu, Bianconneri harus berusaha lebih keras melanjutkan pertandingan lewat babak adu penalti setelah skor 1-1 bertahan sampai laga usai.

Di babak adu penalti, Juve berhasil menang, semua eksekutor mereka mencetak gol dengan baik, sedangkan dua penendang Ajax gagal mengeksekusi penalti.

Daniel James Ungkap Sosok Pemain Yang Menjadi Idolanya

Salah satu bintang anyar Manchester United, Daniel James baru-baru ini mengungkapkan sosok-sosok yang dia anggap sebagai idola sejak masa kanak-kanak.

Daniel James sendiri merupakan salah satu rekrutan anyar Manchester United, dia dibeli pada bursa transfer musim panas kemarin. Penyerang asal Wales ini tampak nyaman mengisi ruang sayap kanan lini serang MU.

Kendati sebelum Premier League ditangguhkan performa James bisa dikatakan cenderung menurun, tapi dia tetap merupakan salah satu prospek cerah yang dimiliki Manchester United.

Terlebih, ini baru musim debutnya bersama dengan Manchester United, jadi tentu sang pemain membutuhkan proses adaptasi. Setidaknya, musim depan publik old Trafford baru bisa menyaksikan kemampuan James yang sebenarnya.

Nah, untuk mengembangkan bakatnya di atas lapangan, tentu saja selain kerja keras, James juga terinspirasi dari beberapa bintang sepakbola. Dan baru-baru ini, pemain Wales tersebut mengaku mengidolakan Juan Mata sejak kecil.

Kini, gelandang Spanyol justru menjadi rekan satu timnya, dan semakin kagum saat melihat sang idola secara langsung.

“Saya kira, saat masih kecil tahulu, saya selalu menyukai Juan. Itu aneh, sebab ketika saya pertama tiba di MU, bertemu dengannya, dia merupakan pria hebat dan rasanya luar biasa bisa bertemu langsung dengan dia.” ungkap James kepada MUTV.

Selain Juan Mata, Pemain berusia 22 tahun ini juga mengaku mengidolakan eks Chelsea yang kini jadi pemain Real Madrid, Eden Hazard. Bintang Belgia selalu jadi sorotannya saat akan beranjak remaja.

“Saat itu dia masih bermain untuk Chelsea. Dia (Juan mata) dan Hazard bersama, saya selalu mengamati dua pemain itu,” lanjut James.

Akan tetapi, panutan dan idola utamanya adalah legenda Manchester United, Ryan Giggs yang kini menjadi pelatihnya di Tim Nasional Wales. Menurut James, Giggs adalah sosok legenda yang layak dicontoh.

“Ryan Giggs, yang merupakan pelatih saya di Wales, adalah seseorang yang selalu saya contoh. Tidak hanya karena kariernya, tapi cara dia menjalaninya,” pungkasnya.

Premier League sendiri kabarnya akan digulir dalam waktu dekat, setelah dua bulan terakhir ini tertunda karena pandemi Corona.

Sudahlah Inter, Jangan Bermimpi Beli Paul Pogba

Inter Milan diminta untuk mengubur mimpi mereka mendatangkan gelandang muda Prancis, Paul Pobga pada bursa transfer mendatang. Hal ini dituturkan oleh salah seorang pandit ESPN, Julien Laurens.

Belakangan ini, pasukan Antonio Conte memang dikaitkan dengan sejumlah nama pemain top. Selain Lionel Messi, mereka juga dikaitkan dengan bintang Tim Nasional Prancis, Paul Pogba.

Nerazzurri bertekad untuk membangkitkan masa kejayaan mereka lagi seperti dulu, dengan Antonio Conte yang meracik taktik di kursi manajer. Meski demikian, rumor ketertarikan merekrut Messi dan Pogba membuat publik cukup terkejut.

Untuk Pogba, pelatih Antonio Conte disebut merasa kecewa dengan gelandang anyar Inter Milan, Christian Eriksen. Pemain yang didapat secara gratis dari Tottenham Hotspur tersebut tak mampu memberikan dampak instan.

Pogba yang memiliki sejarah bagus dengan Conte saat masih menaungi Juventus dulu memang opsi yang sempurna untuk Inter. Akan tetapi, Juliens Laurens sama sekali tak meyakini Nerazzurri punya kekuatan finansial yang cukup untuk mendatangkan pemain mahal seperti Pogba.

“Saya tidak percaya ini sama sekali. Walapun, reuni antara dia dan Conte – yang memiliki pengaruh dalam karirnya di Juve – bisa menjadi sebuah gagasan. Meskipun begitu, tidak mungkin Inter akan mengejar dirinya. Saya tidak yakin Inter akan mampu membelinya,” kata pandit ESPN itu.

Hal yang senada juga diungkapkan oleh pandit lainnya, Gabrielle Marcotti. Pasalnya di satu sisi, klub juga harus memikirkan gaji tinggi para pemain mereka seperti Romelu Lukaku. Terlebih jika pada akhirnya Mauro Icardi bertahan di San Siro.

“Jika PSG tidak mempertahankan Mauro Icardi, maka Inter akan kekurangan 70 juta euro, dan mereka harus membayar gajinya lagi. Gaji Pogba lebih besar dari milik Icardi,”

“Juga, Inter punya Christian Eriksen, mereka punya Patarella, saya tidak bilang kalau Pogba lebih buruk dari mereka, tapi sudah pasti mereka punya masalah yang lebih besar – seperti mempertahankan Lautaro Martinez,” kata Marcotti.

Selain Pogba, Inter Milan juga dipercaya akan mengincar mantan gelandang Juventus, arturo Vidal. Pemain Chile itu bisa jadi opsi yang sesuai, karena banderolnya hanya berkisar 15 Juta Euro saja.