Karena Kasus George Floyd, Eks City Ini Takut Ke AS

Isu rasialisme dalam kasus kematian George Floyd memicu gelombang protes dari berbagai kalangan dan dari berbagai belahan dunia. Bahkan karenanya, ada banyak orang kulit hitam yang takut berkunjung ke Negeri Paman Sam, termasuk eks pemain Manchester City, Nedum Onuoha.

Amerika Serikat memang dalam kondisi yang genting saat ini, selain karena pandemi Virus Corona yang masih belum mereda, mereka juga sedang diterpa isu rasialisme.

Isu tersebut berkaitan dengan kematian seorang kulit hitam bernama George Floyd yang meninggal dunia di tangan salah seorang polisi Minneapolis.

Berdasarkan kabar yang terdengar, George Floyd awalnya hanya diduga akan melakukan aksi kriminal di sebuah pertokoan. Pihak kepolisian setempat lantas melakukan tindakan preventif, namun seorang polisi kulit putih yang bertindak saat itu justru membuat nyawa George Floyd melayang.

Polisi tersebut menekan leher George Floyd menggunakan lututnya sampai yang bersangkutan kehabisan nafas dan akhirnya meninggal.

Kasus kematian tersebut memicu isu rasialisme, gelombang kecaman pun berdatangan dari berbagai kalangan. Bahkan ada aksi unjuk rasa di beberapa kawasan di Amerika Serikat.

Sementara itu, Nedum Onuoha kini bermain di Real Salt Lake, tim MLS di Amerika Serikat sejak 2018 silam. Sebelumnya, ia pernah bermain untuk Manchester City, Sunderlnad, dan Queens Park Rangers.

Sekarang, melihat apa yang terjadi Onuoha justru merasa cemas dengan tingkah lakunya di luar sana akan disalah artikan oleh pihak berwajib.

“Saya kini harus berwaspada tentang bagaimana saya berperilaku di luar sana. Agaknya, apapun yang saya lakukan dipantau oleh orang-orang yang memiliki kekuatan. Saya tidak mau mengatakan hal ini, tetapi sekarang saya takut dan tidak percaya terhadap polisi,” kata Nedum Onuoha kepada BBC.

Lebih lanjut, pria yang sempat cukup lama menetap di Inggris mengakui bahwa kehidupan di Negeri Ratu Elizabeth jauh lebih nyaman dibandingkan di Amerika Serikat.

“Di Inggris, saya merasa lebih nyaman, karena kalau ada sesuatu pun tidak akan sampai mematikan. Kalau di Amerika Serikat, pertengkaran bisa berujung kematian,” sambung Nedum Onuoha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *